Nightlife.id, Jakarta – Jurnalisme positif dinilai bisa meminimali konflik mulai dari yang berskala lokal, nasional, maupun gobal. Karena itu, jurnalisme seperti ini perlu dikembangkan.

“Di tengah perkembangan teknologi digital yang bercirikan kecepatan, dan keserempakan, serta tidak dibatasi ruang dan waktu, jurnalisme positif diperlukan kehadirannya,” kata wartawan senior Budi Purnomo Karjodihardjo S.I.Kom, M.I.Kom di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Budi yang juga Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) DKI Jakarta dan Wakil Ketua Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI) itu menjadi pembicara pada acara Indonesian Constructive Journalism Conference (ICJC) yang bertema “The Power of Positive Journalism and Its Impact on Millenial and Society Development” itu.

Budi menjelaskan, jurnalisme positif adalah turunan atau derivasi dari jurnalisme konstruktif, yang fokus mencari solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi individu dan masyarakat.

“Jurnalisme positif tidak berfokus kepada masalah, konflik atau hal negatif yang bisa meresahkan, membuat tidak tenang bahkan cenderung memecah belah masyarakat,” kata pemegang kartu Wartawan Utama Dewan Pers itu.

Oleh karena itu, menurut Budi, jurnalisme positif akan menjadi penyeimbang bagi jurnalisme tradisional yang beranggapan bahwa “bad news is good news”.

“Banyak peneliti yang melaporkan bahwa berita-berita yang berfokus kepada masalah, krisis, dan berita-berita negatif lainnya bisa menjadi variabel yang membuat kekecewaan publik,” katanya.

Budi melihat, beberapa penerbit dunia juga sudah mulai menerapkan jurnalisme positif, dengan menyisipkan konten positif yang fokus terhadap solusi.

Misalnya, The Christian Science Monitor yang membuat rubrik “Take Action yang menggabungkan jurnalisme dan advokasi sosial. Ada juga Huffington Post yang punya rubrik “Impact” yang menitikberatkan kepada solusi, dan sebagainya.

Budi mengakui, jurnalisme positif menghadapi banyak tantangan karena media digital memiliki ciri kecepatan, keserentakan, dan tidak dibatasi ruang dan waktu.

“Sejumlah konflik di dunia banyak dipicu oleh berita negatif yang menyebar dengan cepat. Demikian juga gejala modernitas negatif yang beredar seperti virus,” katanya.

Karena itu, kehadiran jurnalisme positif di Indonesia sangat penting, mengingat keberagaman Indonesia dari segi agama, suku, bahasa, dan politik sangat rentan dengan potensi konflik.

Acara yang digelar oleh media Akutahu.com dan Fakultas Komunikasi Universitas Dr Moestopo itu juga menghadirkan pembicara lainnya, yaitu Deddy Permadi (Ketua Siberkreasi Kemenkominfo), Aryo Subarkah Eddyoko (dosen Universitas Bakrie), dan Deslina dari media Akutahu.com. Demikian, seperti dikutip media milenialHallo.id. (tim)



Redaksi Nightlife.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksinightlifeid@gmail.com, dan redaksi@nightlife.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here