penamaan Goa Kreo berawal dari pencarian kayu jati oleh Sunan Kalijaga

Nightlife.id, Semarang – Goa Kreo, salah satu destinasi menarik Kota Semarang memang telah populer di masyarakat. Wisata di kawasan Waduk Jatibarang itu banyak dikenal sebagai negerinya para kera yang sangat akrab dengan pengunjung.

Ya, keberadaan ribuan kawanan kera di Goa Kreo memang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Legenda Goa Kreo memang cukup unik, karena berkaitan dengan penyebaran Islam di tanah Jawa oleh salah satu Walisongo yakni Sunan Kalijaga.

BACA : Dekat dengan Jakarta, Tempat Wisata Alam Ini Wajib Disambangi

Menurut legenda, kisah penamaan Goa Kreo berawal dari pencarian Sunan Kalijaga terhadap kayu jati di hutan kawasan Jatibarang. Oleh Sunan Kalijaga, kayu jati tersebut hendak dijadikan soko atau tiang Masjid Demak.

Dalam perjalanannya Sunan Kalijaga menemukan sebuah pohon jati besar di Jatibarang. Ketika pohon itu dipotong untuk dihanyutkan menyusuri sungai menuju ke Demak, Sunan Kalijaga menemui hambatan. Kayu-kayu jati tersebut terjepit di antara bebatuan. Segala cara telah diupayakan untuk menghanyutkan kayu tersebut, tetapi selalu menemui kegagalan.

BACA JUGA : Ini Dia, 21 Tempat Wisata-Eksotik Manokwari

Sunan Kalijaga lalu memilih bertafakur di goa hutan tersebut, dan memohon keridaan Allah. Dalam tafakurnya, ia lalu didatangi sekawanan kera berwarna merah, hitam, putih dan kuning yang bermaksud untuk membantu kesulitan yang dihadapi Sunan Kalijaga.

Dengan bantuan para kera, akhirnya kayu jati yang tersangkut di sungai berhasil dihanyutkan. Sunan Kalijaga lalu
melanjutkan perjalanan menuju Demak. Empat ekor kera murid Sunan Kalijaga kemudian bermaksud mengikutinya ke Demak. Namun hal itu tidak diperkenankan oleh Sunan Kalijaga.

Info seputar destinasi, dan rekomendasi tempat wisata lainnya, bisa diklik di sini.

Para kera itu lalu diberi tugas menjaga kayu jati tersebut oleh Sunan Kalijaga. Istilah penjagaan kayu itu disebut
mengreho. Konon kata Kreo atau goa Kreo berasal daei “Mangreho” yang berarti peliharalah atau jagalah.

Nah, kata Mangreho tersebut diceritakan turun temurun oleh masyarakat sekitar, yang akrab disapa “Gua Kreo”.

Di mana di dalamnya terdapat ajaran tentang Nilai spiritualistas, yang dirangkum dalam tiga aspek, yakni hubungan manusia dengan sang pencipta, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam. (rom)



Redaksi Nightlife.id menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksinightlifeid@gmail.com, dan redaksi@nightlife.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here